PPPK Rasa Honorer: Menagih Janji Kesejahteraan yang Ternyata Masih Jauh dari Harapan.

Narasi mengenai PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) awalnya dihembuskan sebagai oase di tengah padang pasir bagi jutaan guru honorer yang telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun. Namun, setelah berjalan beberapa tahun, muncul kegelisahan kolektif yang menyebut fenomena ini sebagai “PPPK Rasa Honorer”.

Bagi banyak guru, status ini terasa seperti “setengah hati”—memberikan sedikit kepastian hukum, namun masih menyisakan jurang kesejahteraan dan martabat yang menganga. Berikut adalah bedah kritis mengenai janji kesejahteraan yang dianggap masih jauh dari harapan:


1. Status “Kontrak” yang Menghantui (Insecurity)

Berbeda dengan PNS yang memiliki status kepegawaian tetap hingga pensiun, PPPK diikat oleh masa kontrak (biasanya 1 hingga 5 tahun).

2. Hilangnya Jaminan Hari Tua (Pensiun)

Ini adalah isu paling krusial yang membuat PPPK merasa dianaktirikan.

  • Masa Tua yang Tidak Terjamin: Hingga saat ini, skema pensiun bagi PPPK belum setara dengan PNS. Guru PPPK dituntut bekerja dengan beban yang sama, namun mereka harus memikirkan sendiri bagaimana cara menyambung hidup saat tenaga mereka tak lagi dibutuhkan oleh negara kelak.

  • Ketimpangan Keadilan: Di satu ruang guru, dua orang bisa melakukan tugas yang identik, namun yang satu pulang dengan ketenangan masa tua (PNS), sementara yang lain (PPPK) pulang dengan tabungan mandiri yang sering kali tergerus inflasi.


Perbandingan: Ekspektasi vs. Realitas Guru PPPK

Dimensi Janji/Ekspektasi Realitas di Lapangan
Gaji Pokok Setara dengan PNS sesuai golongan. Setara, namun sering kali tunjangan lokal terlambat.
Jenjang Karier Kesempatan menduduki jabatan manajerial. Masih terbatas dan sering kali diprioritaskan untuk PNS.
Beban Kerja Profesional sesuai tupoksi. Sering diberi beban administrasi tambahan “karena baru”.
Kepastian Hukum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kuat. Tergantung pada masa kontrak dan anggaran daerah.

3. Masalah Penempatan dan “Buang Jauh”

Banyak guru honorer yang lolos PPPK justru mengalami masalah logistik yang menurunkan nilai kesejahteraan mereka secara riil.

  • Penempatan Luar Daerah: Banyak guru ditempatkan jauh dari domisili asal. Gaji yang “naik” tersebut akhirnya habis digunakan untuk biaya kos, transportasi, dan biaya hidup di perantauan. Secara nominal gaji meningkat, namun secara kualitas hidup (dan tabungan) justru menurun.

  • Efek Domino Keluarga: Pemindahan tugas ini sering kali memisahkan guru dari keluarga mereka, menciptakan beban psikologis yang berdampak pada performa mengajar di kelas.

4. Tunjangan Daerah yang “Plin-plan”

Meskipun gaji pokok bersumber dari APBN, tunjangan kinerja atau tambahan penghasilan (tamsil) sering kali dibebankan pada APBD.

  1. Kemampuan Fiskal Daerah: Guru PPPK di daerah kaya (seperti Jakarta) mungkin merasa sejahtera. Namun, guru PPPK di daerah dengan APBD kecil sering kali hanya menerima gaji pokok tanpa tunjangan tambahan yang berarti.

  2. Keterlambatan Pembayaran: Tidak sedikit cerita guru PPPK yang tunjangannya menunggak berbulan-bulan karena kendala birokrasi di tingkat daerah, memaksa mereka kembali berutang—sebuah siklus yang persis dialami saat mereka masih berstatus honorer.


5. Stigma “ASN Kelas Dua”

Secara sosial di lingkungan sekolah, masih ada sekat-sekat yang tidak terlihat namun terasa.

“PNS adalah inti, PPPK adalah pelengkap.”

Stigma ini muncul dalam distribusi tugas, wewenang pengambilan keputusan, hingga perlakuan dari pimpinan sekolah. Hal ini melukai martabat profesional guru yang telah lolos seleksi nasional yang sangat kompetitif.


Kesimpulan

PPPK seharusnya menjadi jembatan menuju kesejahteraan, bukan sekadar “label baru” untuk mempertahankan sistem tenaga kerja murah di sektor pendidikan. Menagih janji pemerintah bukan berarti tidak bersyukur, melainkan upaya untuk memastikan bahwa mereka yang mendidik bangsa memiliki ketenangan pikiran. Tanpa jaminan masa pensiun dan kepastian kontrak jangka panjang, PPPK akan tetap terasa seperti “honorer yang ganti baju” saja.

Menurut Anda, apakah sebaiknya pemerintah segera menghapus sistem kontrak PPPK dan mengubahnya menjadi status pegawai tetap agar fokus guru tidak terbagi antara mengajar dan mencemaskan masa depan?

slot gacor

Politisasi Sertifikat: Mengapa Pelatihan Guru Kini Berubah Menjadi Ajang Berburu Sertifikat Tanpa Isi?

Fenomena “Berburu Sertifikat” adalah dampak sampingan paling nyata dari sistem administrasi kependidikan kita yang sangat mekanistik. Ketika kenaikan pangkat, pencairan tunjangan profesi, dan penilaian e-Kinerja digantungkan pada akumulasi poin dari dokumen formal, maka substansi keilmuan sering kali tergeser oleh lembaran kertas bertanda tangan basah.

Pelatihan guru yang seharusnya menjadi momen “cas daya” intelektual, kini banyak yang berubah menjadi sekadar transaksi administratif. Berikut adalah bedah kritis di balik politisasi sertifikat ini:


1. Sistem Poin yang Menjebak (Kuantitas di Atas Kualitas)

Regulasi yang mewajibkan guru mengumpulkan angka kredit dalam jumlah tertentu menciptakan tekanan sistemik.

2. Industri “Jual Beli” Sertifikat dan Diklat

Permintaan yang tinggi terhadap sertifikat melahirkan pasar gelap dan komersialisasi pendidikan.


Ekosistem “Berburu Sertifikat”: Alur dari Tekanan ke Formalitas

Aspek Belajar Substansial (Ideal) Berburu Sertifikat (Realitas)
Motivasi Utama Ingin memperbaiki cara mengajar. Ingin memenuhi poin e-Kinerja/PMM.
Metode Pelatihan Diskusi mendalam, praktik, & evaluasi. Mendengarkan paparan pasif & isi presensi.
Hasil Akhir Perubahan perilaku siswa di kelas. Tumpukan file PDF di memori ponsel.
Dampak Psikologis Rasa puas karena ilmu bertambah. Lelah karena beban administrasi bertambah.

3. Politisasi dan Pencitraan Birokrasi

Sertifikat bukan hanya soal guru, tapi juga soal angka-angka cantik di level birokrasi yang lebih tinggi.

  1. Laporan Serapan Anggaran: Dinas pendidikan atau instansi terkait sering mengadakan pelatihan besar-besaran di akhir tahun demi menyerap anggaran. Kualitas materi nomor sekian, yang penting jumlah peserta (dan jumlah sertifikat yang terbit) terlihat masif di laporan pertanggungjawaban.

  2. Validasi Semu Inovasi: Pejabat sering membanggakan “Jumlah Guru yang Terlatih Digital” berdasarkan jumlah sertifikat yang keluar dari sebuah platform, padahal di lapangan, banyak guru tersebut masih kesulitan mengoperasikan alat dasar karena pelatihan yang dilakukan tidak berbasis praktik.

4. Hilangnya Waktu untuk Siswa

Dampak yang paling memprihatinkan dari fenomena ini adalah tercurinya waktu guru.

  • Guru sebagai “Administratur”: Waktu yang seharusnya digunakan untuk merancang media pembelajaran yang kreatif atau melakukan pendekatan personal kepada siswa yang bermasalah, justru habis untuk mengikuti deretan webinar dan menyusun laporan aksi nyata demi mendapatkan validasi sistem.

  • Kelelahan Mental: Guru mengalami kejenuhan (burnout) karena harus terus-menerus mengejar target sertifikat yang tidak ada habisnya, sehingga semangat mereka saat mengajar di kelas justru menurun.


Solusi: Menggeser Validasi dari Kertas ke Kelas

Untuk memutus rantai “politisasi sertifikat” ini, diperlukan keberanian sistemik:

  • Evaluasi Berbasis Observasi: Kinerja guru seharusnya dinilai 80% dari apa yang terjadi di dalam kelas (interaksi dengan siswa, kualitas umpan balik), bukan dari berapa banyak PDF yang ia unggah.

  • Pelatihan Berbasis Kebutuhan (Bukan Massal): Guru harusnya hanya mengikuti pelatihan yang relevan dengan masalah yang ia hadapi di kelasnya masing-masing, bukan diwajibkan mengikuti semua diklat yang tersedia.

  • Sertifikat sebagai Akibat, Bukan Tujuan: Sistem harus dibuat sedemikian rupa sehingga sertifikat hanya diberikan kepada mereka yang terbukti mengimplementasikan ilmu pelatihannya dan menunjukkan hasil nyata pada kemajuan siswa.

Kesimpulan

Pelatihan guru telah menjadi “ajang berburu sertifikat tanpa isi” karena sistem kita lebih menghargai bukti fisik daripada bukti dampak. Selama kita masih memuja formalitas, maka guru-guru akan terus terjebak dalam perlombaan kertas, sementara kualitas pendidikan di ruang kelas tetap jalan di tempat.

Menurut Anda, apakah sistem poin sertifikat ini perlu dihapus total dan diganti dengan sistem kenaikan pangkat berdasarkan masa kerja dan prestasi mengajar langsung, ataukah ada cara lain untuk menjaga guru tetap belajar tanpa harus terbebani administrasi?

slot gacor

PGRI dan Dilema Independensi Organisasi Profesi


PGRI dan Dilema Independensi Organisasi Profesi

Dalam diskursus organisasi modern, independensi adalah harga mati bagi sebuah organisasi profesi agar dapat menjalankan fungsi kontrol dan advokasi secara objektif. Namun, bagi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), independensi sering kali menjadi barang mewah yang sulit diraih. Terjepit di antara sejarah sebagai pendukung negara dan tuntutan sebagai pembela guru, PGRI menghadapi dilema eksistensial: Bisakah ia benar-benar mandiri saat kakinya masih berpijak di ranah kekuasaan?

Dilema ini bukan sekadar masalah teoretis, melainkan realitas yang menentukan seberapa tajam “taring” PGRI saat hak-hak guru dikebiri oleh kebijakan penguasa.

1. Akar Sejarah: Loyalitas yang Terlembagakan

PGRI lahir dengan semangat nasionalisme yang kental. Pada era tertentu, organisasi ini bahkan menjadi bagian dari mesin politik negara. Warisan ini menyisakan struktur yang cenderung “patuh” kepada pemerintah.

2. Struktur Kepengurusan yang “Mendua”

Hambatan terbesar independensi PGRI terletak pada komposisi pengurusnya. Di banyak daerah, posisi kunci PGRI diisi oleh pejabat aktif di Dinas Pendidikan atau instansi pemerintah lainnya.

3. Ketergantungan Finansial dan Fasilitas

Independensi sebuah organisasi sangat ditentukan oleh kantongnya sendiri. Dilema PGRI semakin nyata karena:

  1. Hibah Pemerintah: Banyak kegiatan besar PGRI di tingkat daerah yang masih bergantung pada dana hibah APBD. Ketergantungan ini secara halus namun pasti mengikat lidah organisasi untuk tidak bersuara terlalu vokal.

  2. Fasilitas Kantor: Penggunaan aset pemerintah sebagai markas organisasi di daerah menciptakan keterikatan psikologis dan administratif yang menghambat daya kritis.


Matriks Dilema Independensi

Indikator Kondisi Ideal (Independen) Kondisi PGRI Saat Ini
Kepemimpinan Murni praktisi/profesional Didominasi birokrat/pejabat
Pendanaan Mandiri dari iuran anggota Sebagian bergantung pada hibah
Sikap Politik Berjarak dengan kekuasaan Cenderung terafiliasi/dekat
Advokasi Berbasis hak guru & data Berbasis kompromi politik

4. Dampak: Suara yang Terbelah dan Lemah

Dilema independensi ini menghasilkan dampak yang merugikan anggota:

  • Advokasi “Setengah Hati”: Kritik PGRI terhadap kebijakan pemerintah sering kali disertai dengan permohonan maaf atau bahasa yang terlalu halus, sehingga tidak memberikan tekanan politik yang cukup bagi pengambil kebijakan.

  • Ketidakpercayaan Guru Muda: Generasi guru baru yang lebih kritis melihat PGRI hanya sebagai “perpanjangan tangan” pemerintah, bukan sebagai pelindung profesi yang tangguh.

5. Menuju Independensi Sejati: Langkah Berani

Jika PGRI ingin tetap relevan di masa depan, organisasi ini harus berani melakukan pembenahan radikal:

  • Larangan Jabatan Rangkap: Menetapkan aturan bahwa pengurus inti organisasi tidak boleh menjabat sebagai pejabat struktural di instansi pemerintah untuk menghindari konflik kepentingan.

  • Optimalisasi Iuran Mandiri: Memperketat pengelolaan iuran dan membangun unit usaha mandiri agar organisasi tidak lagi menengadahkan tangan kepada pemerintah daerah.

  • Kaderisasi Praktisi: Mendorong guru-guru kelas yang berprestasi dan vokal untuk memimpin organisasi, bukan lagi para pensiunan atau birokrat.

Kesimpulan: Mandiri atau Menjadi Sejarah

Independensi bukan berarti bermusuhan dengan pemerintah, melainkan memiliki keberanian untuk berbeda pendapat demi kebenaran profesi. PGRI harus memilih: ingin terus berada di bawah bayang-bayang kekuasaan yang nyaman, atau berdiri tegak sebagai organisasi profesi yang bermartabat.

Tanpa independensi, PGRI hanyalah sebuah ornamen demokrasi di dunia pendidikan. Hanya dengan kemandirian sejati, PGRI bisa benar-benar menjadi perisai bagi jutaan guru di Indonesia.

PGRI di Antara Kepentingan Guru dan Kepentingan Negara


PGRI di Antara Kepentingan Guru dan Kepentingan Negara

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim revolusi kemerdekaan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyandang status yang unik sekaligus dilematis. Di satu sisi, ia adalah organisasi profesi yang wajib memperjuangkan hak dan kepentingan guru sebagai anggotanya. Di sisi lain, PGRI memiliki ikatan historis dan struktural yang kuat sebagai mitra strategis negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Posisi “di antara” ini sering kali menempatkan PGRI dalam situasi sulit. Ketika kepentingan guru (seperti tuntutan kesejahteraan dan otonomi profesi) berbenturan dengan agenda negara (seperti penghematan anggaran atau standardisasi birokrasi), PGRI sering kali terjepit di tengah tarikan dua kutub kepentingan tersebut.

1. Dilema Loyalitas: Serikat Pekerja atau Aparatur Sipil?

Sebagian besar anggota PGRI adalah Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini menciptakan kompleksitas dalam berorganisasi:

2. Fungsi PGRI sebagai “Peredam” atau “Akselerator”?

Dalam konstelasi kebijakan publik, PGRI sering kali memainkan peran sebagai mediator. Namun, efektivitas peran ini dipertanyakan:


Matriks Konflik Kepentingan

Isu Strategis Perspektif Kepentingan Negara Perspektif Kepentingan Guru Posisi PGRI Saat Ini
Beban Kerja Efisiensi melalui digitalisasi (PMM/e-Kinerja) Ingin fokus mengajar tanpa beban aplikasi Cenderung mendukung negara dengan catatan teknis
Kesejahteraan Menyesuaikan kemampuan APBN/APBD Menuntut upah layak dan tepat waktu Melakukan lobi diplomatis namun jarang konfrontatif
Otonomi Guru Penyeragaman melalui standar kurikulum Ingin kebebasan berinovasi di kelas Menjadi pelaksana sosialisasi kurikulum negara

3. Risiko “Kooptasi” oleh Kekuasaan

Tantangan terbesar PGRI adalah menghindari kooptasi—situasi di mana organisasi profesi kehilangan independensinya karena terlalu dekat dengan struktur kekuasaan negara.

  1. Fasilitas dan Hibah: Ketergantungan terhadap fasilitas kantor dari pemerintah daerah atau dana hibah sering kali membuat pengurus PGRI sungkan untuk melakukan kritik tajam terhadap kebijakan kepala daerah.

  2. Harmonisasi yang Menidurkan: Slogan “Mitra Strategis Pemerintah” sering kali disalahartikan menjadi persetujuan buta terhadap semua agenda negara, yang pada akhirnya mengabaikan jeritan hati guru di akar rumput.

4. Dampak: Krisis Kepercayaan dari Bawah

Jika PGRI lebih condong menjadi “perpanjangan tangan” negara daripada “pelindung” guru, maka:

  • Erosi Legitimasi: Guru-guru muda akan melihat PGRI bukan sebagai serikat yang kuat, melainkan sebagai bagian dari birokrasi yang membebani mereka.

  • Lahirnya Gerakan Akar Rumput: Munculnya kelompok-kelompok guru independen yang melakukan protes langsung tanpa melalui PGRI menunjukkan bahwa ada sumbatan komunikasi yang gagal diatasi oleh organisasi.

5. Strategi: Menjaga Jarak yang Bermartabat

Untuk tetap relevan, PGRI harus membangun independensi yang konstruktif:

  • Kemitraan Berbasis Data: Mendukung program negara jika berbasis data dan terbukti menyejahterakan guru, namun berani menolak secara intelektual jika kebijakan tersebut hanya bersifat politis atau membebani.

  • Otonomi Finansial: Menguatkan iuran anggota agar organisasi tidak bergantung pada hibah pemerintah, sehingga memiliki “tulang punggung” yang kuat untuk bersikap tegas.

  • Reposisi sebagai Kelompok Penekan (Pressure Group): Kembali ke fungsi aslinya sebagai penyeimbang kekuasaan, memastikan suara guru tidak hilang dalam hiruk-pikuk kepentingan politik negara.

Kesimpulan: Guru Sejahtera, Negara Kuat

Kepentingan guru dan kepentingan negara seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang saling meniadakan. Guru yang sejahtera, terlindungi, dan merdeka dalam mengajar adalah aset terbesar negara. PGRI harus berani meyakinkan negara bahwa berpihak pada kepentingan guru adalah cara terbaik untuk melayani kepentingan negara.

PGRI bukan milik pemerintah, bukan pula sekadar serikat penuntut; PGRI adalah rumah bagi martabat pendidik yang harus tetap berdiri tegak, meski berada di antara dua tarikan kepentingan.

PGRI sebagai Tempat Guru Berbagi Pandangan

PGRI sebagai Tempat Guru Berbagi Pandangan

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berperan sebagai ruang terbuka bagi guru untuk berbagi pandangan dan pengalaman terkait pendidikan. Melalui keanggotaannya, guru dapat menyampaikan ide, kritik, dan saran mengenai metode pembelajaran, kurikulum, dan kebijakan pendidikan yang sedang berjalan.

PGRI menyediakan berbagai forum untuk pertukaran pandangan, seperti seminar, lokakarya, rapat anggota, dan diskusi ilmiah. Dalam forum ini, guru dapat berdiskusi secara terbuka dan konstruktif, saling memberikan masukan, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kompetensi profesional guru, tetapi juga memperkuat jejaring antaranggota sehingga tercipta komunitas belajar yang dinamis.

Lebih dari itu, PGRI mendorong guru untuk menyuarakan aspirasi secara kolektif. Pandangan dan masukan yang dikumpulkan dapat menjadi dasar advokasi kebijakan pendidikan, sehingga keputusan yang diambil lebih sesuai dengan kebutuhan guru dan kondisi nyata di sekolah. Dengan demikian, PGRI menjadi jembatan antara guru dan pembuat kebijakan, memastikan suara guru terdengar dan dihargai.

Selain aspek profesional dan advokasi, PGRI juga menekankan nilai solidaritas. Guru diajak untuk berbagi pandangan dalam konteks proyek kolaboratif, kegiatan sosial, dan program pengembangan komunitas. Hal ini menjadikan berbagi pandangan tidak hanya bersifat teori, tetapi juga diaplikasikan dalam praktik nyata yang bermanfaat bagi siswa dan masyarakat.

Secara keseluruhan, PGRI berperan sebagai tempat guru berbagi pandangan, memperkuat jejaring profesional, dan memfasilitasi aspirasi kolektif. Dengan keterlibatan aktif, guru dapat membangun pendidikan yang lebih inovatif, inklusif, dan berdaya saing tinggi.

monperatoto
monperatoto
monperatoto
situs gacor
toto togel
situs slot resmi
monperatoto
slot resmi
togel online
situs toto
togel

situs toto

PGRI dan Pola Kerja Bersama Guru

PGRI dan Pola Kerja Bersama Guru

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bukan hanya sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai motor penggerak pola kerja bersama guru dalam meningkatkan mutu pendidikan. PGRI menyediakan wadah bagi guru untuk bekerja secara kolektif, baik dalam pengembangan kompetensi, implementasi kurikulum, maupun program sosial dan pendidikan.

Pola kerja bersama yang difasilitasi PGRI mencakup kolaborasi dalam perencanaan pembelajaran, penyusunan materi ajar, serta pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dan proyek inovatif. Melalui mekanisme ini, guru saling mendukung dan bertukar pengalaman, sehingga tercipta praktik pendidikan yang lebih efektif dan efisien. Aktivitas kolektif ini juga mendorong guru untuk mengidentifikasi masalah secara bersama dan menemukan solusi kreatif yang berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Selain aspek profesional, PGRI menekankan pentingnya kerja sama dalam bidang advokasi. Guru yang tergabung dapat menyuarakan kebutuhan dan aspirasi mereka terkait kebijakan pendidikan, kesejahteraan guru, serta kondisi sekolah. Dengan pola kerja bersama, suara guru menjadi lebih terorganisir dan memiliki pengaruh lebih besar dalam proses pengambilan keputusan di tingkat daerah maupun nasional.

PGRI juga memfasilitasi proyek kolaboratif yang bersifat sosial dan kemasyarakatan, seperti program literasi, kegiatan lingkungan, dan pengabdian masyarakat. Melalui pola kerja bersama ini, guru tidak hanya berkontribusi pada pendidikan di kelas, tetapi juga pada pembangunan karakter dan kesejahteraan komunitas di sekitar sekolah.

Secara keseluruhan, PGRI membangun pola kerja bersama yang memadukan pengembangan profesional, advokasi, dan kontribusi sosial. Pola ini memperkuat rasa solidaritas antar guru, meningkatkan efektivitas pembelajaran, dan menegaskan peran guru sebagai agen perubahan dalam pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

monperatoto
monperatoto
monperatoto
situs gacor
toto togel
situs slot resmi
monperatoto
slot resmi
togel online
situs toto
togel

situs toto

PGRI sebagai Wadah Penguatan Peran Sosial Guru

Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik di ruang kelas, tetapi juga sebagai agen sosial yang memiliki tanggung jawab dalam membangun nilai, karakter, dan kehidupan bermasyarakat. Peran sosial guru mencakup keteladanan, kepedulian, serta kontribusi aktif dalam kehidupan sosial dan budaya di lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berfungsi sebagai wadah strategis dalam menguatkan peran sosial guru di Indonesia.

Sebagai organisasi profesi, PGRI memfasilitasi guru agar mampu menjalankan peran sosialnya secara terarah, profesional, dan bermartabat.

Peran Sosial Guru dalam Masyarakat

Peran sosial guru tercermin dalam sikap dan tindakan yang memberikan pengaruh positif bagi peserta didik dan masyarakat. Guru menjadi figur teladan dalam menjunjung nilai kejujuran, toleransi, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Selain itu, guru juga berperan sebagai penggerak pendidikan masyarakat, mediator sosial, dan agen perubahan dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.

Namun, penguatan peran sosial guru membutuhkan dukungan kelembagaan agar dapat dijalankan secara berkelanjutan dan terorganisasi.

Peran PGRI dalam Penguatan Peran Sosial Guru

  1. Penguatan Kesadaran dan Identitas Sosial Guru
    PGRI berperan dalam menumbuhkan kesadaran guru akan identitas sosialnya sebagai pendidik dan panutan masyarakat. Melalui pembinaan organisasi dan kegiatan reflektif, PGRI membantu guru memahami peran sosialnya sebagai bagian integral dari profesi. slot gacor

  2. Fasilitasi Kegiatan Sosial dan Kemasyarakatan
    PGRI menjadi wadah bagi guru untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, seperti bakti sosial, edukasi masyarakat, dan kegiatan kemanusiaan. Kegiatan ini memperkuat keterlibatan guru dalam kehidupan sosial dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru.

  3. Penguatan Nilai Solidaritas dan Kepedulian Sosial
    Melalui semangat kebersamaan dan solidaritas, PGRI menanamkan nilai kepedulian sosial antarguru dan masyarakat. Solidaritas ini memperkuat posisi guru sebagai bagian dari komunitas yang saling mendukung dan peduli.

  4. Pembinaan Sikap Profesional dalam Interaksi Sosial
    PGRI membina guru agar mampu menjalankan peran sosialnya secara profesional, menjaga etika, dan menjunjung nilai toleransi dalam interaksi dengan masyarakat. Pembinaan ini penting untuk menjaga citra positif guru di ruang publik.

  5. Kolaborasi dengan Berbagai Pemangku Kepentingan Sosial
    PGRI mendorong kolaborasi guru dengan berbagai pihak, seperti organisasi masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga sosial. Kolaborasi ini memperluas ruang kontribusi guru dalam pembangunan sosial dan pendidikan masyarakat.

Dampak Penguatan Peran Sosial Guru

Penguatan peran sosial guru melalui PGRI berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan. Guru yang aktif dan berperan sosial akan lebih dihargai dan didukung oleh lingkungan sekitarnya. Selain itu, peran sosial yang kuat juga memperkaya pengalaman profesional guru dalam mendidik peserta didik.

Penutup

PGRI berperan penting sebagai wadah penguatan peran sosial guru di Indonesia. Melalui pembinaan kesadaran sosial, fasilitasi kegiatan kemasyarakatan, penguatan solidaritas, dan kolaborasi lintas sektor, PGRI membantu guru menjalankan peran sosialnya secara optimal. Penguatan peran PGRI secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam membangun guru yang profesional, peduli, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

monperatoto

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs toto

situs toto

situs gacor

situs gacor

slot gacor

situs toto

situs gacor

monperatoto

togel

monperatoto

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs toto

situs toto

situs toto

situs toto

Peran PGRI dalam Menguatkan Disiplin Kerja Guru

Peran PGRI dalam Menguatkan Disiplin Kerja Guru

Pendahuluan

Disiplin kerja guru merupakan salah satu indikator utama profesionalisme pendidik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Disiplin yang tinggi tercermin dari kepatuhan terhadap aturan, ketepatan waktu, komitmen terhadap pembelajaran, serta konsistensi dalam melaksanakan kewajiban profesional. Dalam upaya menguatkan disiplin kerja guru, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memiliki peran strategis sebagai organisasi profesi yang membina, mengawasi, dan memperjuangkan kualitas serta martabat guru di Indonesia.

Sebagai organisasi profesi, PGRI berfungsi sebagai mitra pendukung yang membantu guru menjalankan disiplin kerja secara sadar dan bertanggung jawab.

Disiplin Kerja Guru sebagai Pilar Profesionalisme

Disiplin kerja tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, tetapi juga mencakup disiplin moral dan profesional. Guru yang disiplin menunjukkan kesungguhan dalam mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan tugas mengajar, serta mengevaluasi hasil belajar secara objektif. Namun, dalam praktiknya, disiplin kerja guru dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti beban kerja, lingkungan kerja, dan pemahaman terhadap aturan profesi.

Oleh karena itu, diperlukan peran organisasi profesi seperti PGRI untuk memperkuat kesadaran dan komitmen guru terhadap disiplin kerja.

Peran Strategis PGRI dalam Menguatkan Disiplin Kerja Guru

  1. Sosialisasi Aturan dan Kode Etik Profesi Guru
    PGRI berperan aktif dalam mensosialisasikan peraturan perundang-undangan serta Kode Etik Guru Indonesia. Pemahaman yang baik terhadap aturan dan etika profesi membantu guru menyadari pentingnya disiplin kerja sebagai bagian dari tanggung jawab profesional.

  2. Pembinaan Sikap Profesional dan Tanggung Jawab Kerja
    Melalui kegiatan pembinaan dan pelatihan, PGRI menanamkan nilai tanggung jawab, komitmen, dan integritas dalam bekerja. Pembinaan ini mendorong guru untuk menjalankan tugas secara konsisten dan disiplin tanpa harus bergantung pada pengawasan ketat.

  3. Penguatan Budaya Disiplin di Lingkungan Sekolah
    PGRI mendorong terciptanya budaya disiplin melalui kerja sama dengan pihak sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan. Budaya disiplin yang dibangun secara kolektif membantu guru saling mengingatkan dan mendukung dalam menjalankan kewajiban profesional.

  4. Pendampingan dan Penyelesaian Permasalahan Disiplin
    Dalam menghadapi permasalahan disiplin kerja, PGRI berperan sebagai pendamping yang memberikan pembinaan dan solusi secara persuasif. Pendekatan edukatif ini membantu guru memperbaiki sikap kerja tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan dan keadilan.

  5. Keteladanan dan Kepemimpinan Organisasi
    Pengurus PGRI di berbagai tingkatan diharapkan menjadi teladan dalam menerapkan disiplin kerja. Keteladanan ini memberikan contoh nyata bagi anggota dalam menjalankan tugas profesional secara tertib dan bertanggung jawab.

Dampak Penguatan Disiplin Kerja terhadap Mutu Pendidikan

Disiplin kerja guru yang kuat berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran dan iklim sekolah. Guru yang disiplin akan lebih terencana, konsisten, dan fokus dalam mendidik peserta didik. Selain itu, disiplin kerja yang baik juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru dan institusi pendidikan.

Penutup

PGRI memiliki peran penting dalam menguatkan disiplin kerja guru di Indonesia. Melalui sosialisasi aturan, pembinaan profesional, penguatan budaya disiplin, dan pendampingan permasalahan kerja, PGRI berkontribusi dalam menjaga profesionalisme dan martabat guru. Penguatan peran PGRI secara berkelanjutan menjadi fondasi dalam mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas dan berkarakter.

monperatoto

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs toto

situs toto

situs gacor

situs gacor

slot gacor

situs toto

situs gacor

monperatoto

togel

monperatoto

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs toto

situs toto

situs toto

situs toto

A Different kind of Coronation

Mother’s Day is an American holiday  started by  Anna Jarvis who wanted to honor her activist Mom Ann Reeves Jarvis whose advocacy was to improve the health conditions of the impoverished women in the Appalachian region in the 1800’s.

This holiday is usually celebrated on the second Sunday of May to honor all mothers for their unwavering love and sacrifice in nurturing and raising their children.

While the day was observed as a legal holiday, celebrated with simplicity and reverence—church services were held in honor of all mothers, living and dead. Fast Forward to today, Mother’s Day has become mainstream by commercializing it’s significance with greeting cards, the sending of flowers and buying gifts to honor Mothers.

Regardless of how we celebrate this day,  there is nothing wrong on how we choose to honor and express our love to the woman that we all call Mom, a simple gesture or a heartfelt message thanking and valuing our Moms is never a bad idea.  Here is mine.

 

A lawyer by profession, Kat Valdez Cruz is also a college administrator of Patts College of Aeronatics.  I share with you a snippet of Kat’s parenting style, a single widowed mother raising two beautiful and accomplished daughters Annika and Alessi.

Describe your parenting style.  Does it differ from one child to another?

“I think I’ve incorporated a little bit of how my parents raised me but mostly just figuring things out along the way. I’m quite stern and rigid. I had to be since I was left to raise the girls alone. But as I aged, I think I have mellowed from being very strict to being more flexible and accepting that things don’t always turn out how you want them to. The girls raised me as well. ?”

What advice can or did you give to your daughters that you feel they took it to heart?

“I’ve raised my daughters to be strong and independent. I’ve always told them that life will not always be a bed of roses. It will be a series of trials and challenges. You must learn to persevere and remain steadfast. When it comes to finding a partner in life, I told them to use both smarts and prayer. It is my most fervent wish – that they find someone that will perfectly complement them and be a great partner in life.”

What have you learned as a parent in raising your girls?

 

 

 

“When the kids were younger and I had just lost Reymond, I sought the help of a therapist. She very clearly told me – your children will have a million friends. Don’t try to be a friend to them. They don’t need that. What they need is a parent who will keep them in place. A parent who will set the rules and who will make sure they follow them. Don’t try to be a friend and think you will get along 100% of the time. Be a parent because that’s what they need most from you. I take this to heart always.”

Have your children taught you something that you appreciate or appreciated?

 

“My children are my constant reminder that whatever I go through in life, it will always be good because I have them by my side. They are the ones who will stand by me even if I make mistakes and wrong decisions. They teach me everyday how to love with no limits and to be a better person in the process.”

What is your beauty routine?  Any favorite products?

“When I hit 40 a few years back, I realized that beauty routines are a must! We cannot rely on youth and natural beauty anymore! More so now that I am 50! I apply sunblock before I step out the door to exercise and re-apply before I go to the office. Moisturizers are a must as age has dried our skin. I also use eye creams and serums. Haha! Seems like a lot but again, I think it’s necessary if we want our skin to remain supple and young. Its okay to age! I am not afraid of that. I however want to age gracefully – like my Mother. ?”

Are there beauty products you share or your girls have shared with you that you loved?

 

Indoor flourescent lighting or computer glare can contribute melasma and skin darkening too. Aging skin can be delayed by the regular use of Sunscreen on the face.

“We are beauty junkies! I love buying makeup and accessories but I don’t really know how to use them. My children are such great teachers! They’ve taught me the importance of contours, bronzers, highlights and more! At the moment, my most favorite beauty product is my sunblock stick. I love how it applies so seamlessly without having to touch the product plus it is not sticky at all after application.”

 

 What is your favorite photo/s from the shoot and why?

“I love all! You and Andrea made us shine! Thank you for this experience with my girls.”

10). Describe a beauty moment for you that changed the way you approach beauty or made your feel confident.

 

A sunscreen stick is always handy, don’t forget to reapply sunscreen during midday to protect your face from harmful UV rays.

“I was in triathlon for 10 years and the years under the sun and extreme heat really aged my skin. I enjoyed the sport and did not realize how much it was affecting my skin. When I walked away from triathlon, my skin changed as well. I was not as tanned which for me was a beauty mark. It’s what I believed was beautiful then. Now I am a few shades lighter and also went up a few sizes (hehe) but I am comfortable where I am at. I find beauty in how I am today – older, fairer, chunkier but still keeping fit and happier.”

 

To all the Mothers who never cease to nurture, care, guide and love their children, a big thank you for all that you do and all that you are!  You are our Queens!

 

Makeup:  Acie Fores

Photography :  Andrea Zubiri Photography

 

situs togel

bandar togel

situs togel

situs togel

bandar togel

bandar togel

toto togel

situs togel

situs togel

toto togel

bandar togel

toto togel

bandar togel

toto togel

cabe4d

cabe4d

toto togel

cabe4d

situs togel

rimbatoto

bandar togel

toto macau

cabe4d

cabe4d

cabe4d

situs toto

toto togel

toto togel

cabe4d

rimbatoto

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

toto togel

cabe4d

bandar togel

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

toto togel

slot thailand

situs toto

toto slot

bandar togel

rimbatoto

toto slot

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

rimbatoto

rimbatoto

link slot

bento4d

situs toto

slot online resmi

toto slot

link slot resmi

toto togel

situs togel

toto togel

toto togel

link slot

situs togel

slot gacor hari ini

link gacor

situs slot

rtp slot

situs gacor

toto slot

slot gacor

slot online

situs slot

bento4d

bento4d

situs toto togel

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs toto

situs toto

situs toto

situs toto

Top 5 Favorite Foundations for Bridal

 

Who doesn’t want to look good in photos or in real life?  Finding your perfect foundation is one of the most intimidating tasks when shopping for makeup.  Throw in a special event like a wedding and it can be even more challenging.  You need it to be long lasting and make it look like second skin.

The following choices have been narrowed down to five but there are other high performing foundations in the market to choose from but these have proven the criteria I set for when making my clients and Brides look picture perfect.

Best Overall:  Lisa Eldridge Seamless Foundation

 

Formulated in Kyoto Japan, The medium coverage is customizable that can be layered up or down depending on the coverage you want.  Infused with Uji Green Tea Extract, to help the skin fight radicals, Bamboo extract, to help absorb oil to give the skin a skin like finish an active ingredient from a Nasturtium flower to help boost hydration and smooth the skin.  The new ingredient Filmexel that forms like a flexible mesh on the skin to give a lifting a tightening effect. Who doesn’t want that?  It’a also suited for vegans, its alcohol, paraben and talc free, perfect for sensitive skin.  It has a pump that is calibrated to give you the exact amount of coverage you need.  Its best applied in thin layers.

Available at www.lisaeldridge.com

Best Long wearing:  NARS Radiant Long Wearing Foundation

 

 

True to its marketing spiel, it says it can last up to 16 hours, but I don’t know who has makeup that long on the face.  But yes it has lasted more than 8 hours on a Bride and its coverage is medium to full.  It has multiple shades that fit any skin tone, its transfer and sweat proof and suitable for vegans as well.  Its breathable and lightweight.  Radiant?  yes it is, it even looks better when it stays on the face a bit longer.  Infused with watermelon, and citrus extracts, it helps brighten the skin too.

 

NARS Available at Rustans

 

BEST for Glow from Within Look:  Jung Saem Mool Nuder Foundation

 

Jung Saem Mool a Korean Celebrity artist for 30 years is known for that “transparent beauty” where minimal makeup is used to enhance not mask the one’s features.  Its kinda my beauty mantra too, “still you but better”.
Its medium coverage and adjusts to your skin tone.  Its best applied with the cushion puff it comes with, patting the product and not rubbing it in.  It gives a subtle glow to the skin, but unfortunately the shade range is limited and suited for the Korean fair skin tone.  My shade is Medium deep but it’s still in the light skin tone range.

 

Available at https://www.jsmbeauty.us/

 

 

Best for Oily Skin:  Makeup Forever Matte Velvet Finish

 

 

I apply this foundation by prepping the skin with serums, oil and a lightweight moisturizer.  What this does is it gives the skin a satin like finish to the skin and its also long lasting.  I use this a lot for Brides with oily to combination skin as the finish it gives is just the right amount of sheen.  Available in many skin shades and I like the tube dispenser method as it kept sanitary when its’ being dispensed.

It says 24 hours coverage with its Flexifit fit technology that lasts all day and it doesn’t crease or fade.  Just like what the name says its Makeup Forever.

 

Available at Lazada, Sephora and https://www.makeupforever.com/us/en?l=en&c=US

 

Best for Airbrush quality look:  Makeup Forever Ultra HD

Foundation and Primer in one palette!  It s so sheer but when applied its undetectable and it just gives your skin a smoother even finish. The 12 shade formula can be used to highlight, contour and conceal to give you the perfect skin base.  The silicone based formula is lightweight and can be adjusted to tone it up or tone down depending on your preference.  You can buy individual shades and it can be purchased as a stick, perfect on the go.

 

Available at https://www.makeupforever.com/us/en?l=en&c=US, Lazada and Sephora

TIP:  When trying out foundation swatches, let it rest on the skin for 10-15 minutes to see if it changes color (oxidize).  If it does, try another product that stays true to your skin tone.

 

 

situs togel

bandar togel

situs togel

situs togel

bandar togel

bandar togel

toto togel

situs togel

situs togel

toto togel

bandar togel

toto togel

bandar togel

toto togel

cabe4d

cabe4d

toto togel

cabe4d

situs togel

rimbatoto

bandar togel

toto macau

cabe4d

cabe4d

cabe4d

situs toto

cabe4d

rimbatoto

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

cabe4d

situs toto

cabe4d

cabe4d

cabe4d

rimbatoto

rimbatoto

bento4d

bento4d

bento4d

link slot

bento4d

bento4d

toto togel

bento4d

toto togel

situs toto

situs togel

situs togel

slot online

slot resmi

situs toto

situs slot

bento4d

link slot resmi

toto slot

link slot

bento4d

toto togel

situs slot

slot thailand

slot thailand

toto togel

slot resmi

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs toto

situs toto

situs toto

situs toto

Behind the Veil – Singson Camara Nuptials

Most of the time, simple is best.  It keeps things fluid, effortless and comfortable.  Michaela is all that.  Just in her short story below, we met through her now husband, who is my chiropractor at Intercare.  I wasn’t expecting anything from that meeting since I figured Michaela already had finalized her makeup artist options since the wedding was a few months away.

Both families come from a line of professionals and achievers, I admire the values that her mother Tang and father inculcated in their children.   Seeking higher education is always  worth pursuing more than the material values that are fleeting and superficial.  I also saw how the family came together and pulled out all the stops, to help, soothe and calm a nervous bride specially as the magic hour is nearing .

This is what class is all about.  I love how you were so cool and calm throughout your preparations and your inner glow definitely showed through, just like how a blushing Bride should be. Thank you for making me a part of your love journey,  I wish you and Miguel a happy and prosperous marriage filled with blessings, joy and happiness.

1. Please tell me a bit about yourself. What do you do for a living, what are your hobbies, passions?
Hi! I’m Mika. I’m an architect who specializes in sustainability. I work with the Adrian Smith + Gordon Gill Carbon Lab team that does a mix of ensuring energy efficiency, low carbon and LEED/WELL consulting. 
 
During my free time, I love to  paint, eat BBQ popcorn + watch movies, hike, play board games, and skate. I started skating with my sister earlier this year, and we both love it so much that we go at least once a week. 
 
2. How did you find out about me (Acie Fores Makeup Artist)? What made you want to work with me?
I first heard about you from my (now) husband Miguel. He randomly gave me a calling card saying his patient was a make-up artist and I should try her out. Admittedly, I didn’t call you RIGHT after that, because in my head – “he does not know the difference between foundation and primer” But a few days later, my tita had mentioned you too, saying that her friends had worked with you previously, and that you had made all her friends look amazing! 
 
3. How did you like the outcome of our time together, for your special day? 
Today’s forecast, bridal showers
I liked you trial pa lang! Haha! By that time, I had tried na three make-up artists and was already getting frustrated that I had not found “the one” for my big day. I sound so arte, but my skin is actually so sensitive. (Full make-up really feels like a chore because of how heavy it feels on my face.) I had broken out in rashes after the trial with make-up artist #3, and ended up with a bad stye with make-up artist #1. I was close to picking make-up artist #2 just cause I did not break out into rashes after the trial. Buti nalang, Miguel and my tita mentioned you. So, I said, “Sige na nga one more trial.” 
The minute you started prepping my skin I knew na you were different. I mean, how many people have tried a make-up artist who will exfoliate their skin and then massage it before the make-up? 
As the trial went on, you airbrushed my make up on. (My first time to try airbrushed make-up) Not only did it feel great – feeling like I didn’t have any make-up on my face, but I loved how you made me look too! I felt the make-up looked so natural – like I was still me, but a flawless, glowing version of me! Totally what I was going for, for my big day! 
So of course, on the day itself I sat on the make up chair with no worries at all. The full trust I had in you made all the difference. 
4. What’s one special memory you have of your wedding that you love? Could you share that photo with us?
It’s not the wedding itself, but the day before. Getting ready with my family was such an intimate time for me. This includes both my immediate family and my extended family. My extended family – siblings of my parents and their children, were with us prior to the wedding too. They all came to Tagaytay the day before and we spent the night hanging out. I felt as if they were all hand-holding me all the way to the wedding.
5). What was a good beauty moment for you during the wedding day itself?  
Can I say none? Haha! It’s not that I didn’t feel beautiful on the day, but I didn’t have what I would call a beauty moment. The day was beautiful over-all, because of the way everything fell into place.
6)  Favourite beauty product, application used during your wedding and why?
If you cant get to a dermatologist, this is the next best things to flake off dead skin cells and give you a smooth canvas, ready for makeup.
I really loved the Cure Aqua gel exfoliator that you used on me. I felt like it got (cause i use it regularly now) all the gunk/dead skin cells out. I also liked the eye massage. Felt great to get a facial massage on the day itself! 
7)  Any bridal tips you want to share for future brides planning their wedding?
Find the best suppliers for the big day – suppliers you are happy with, then on the day just watch them all work their magic and watch everything fall into place. 
8)  What is one thing you could change during your wedding preparation? 
I don’t know if I would change anything to be honest. Wedding planning was definitely stressful, but the day itself – the ceremony and dinner went perfectly. Everything that happened prior ended in something beautiful.
9)  Any beauty rituals you did or received that you want to share?
None really, aside from the Cure Aqua gel exfoliator that I mentioned in # 6.
10)  Favourite photo of you during the wedding and why.

The wedding ceremony was quick, and felt surreal. I didn’t realize I was smiling and laughing a lot too throughout the ceremony. So when I saw the photos, it was such a pleasant surprise to see so many photos where Miguel and I were just laughing. It’s such a great reminder of the day that unfolded, and how much fun we had (and have) together.

Products used:

Lisa Eldridge Foundation 13

MakeupbyMario Ethereal Eyes Palette

Dior Contour Palette 001 Universal

Dior glow Face Palette 001 Universal

Charlotte Tilbury Pillow Talk Blush

Makeup Forever Nude Creme Lippie 08

Gown:  Mark Bumgardner

Makeup:  Acie Fores
Hair: Vilma Legaspi
Photography:  C/o Bride Michaela Jaja Samaniego
Venue:  Anya Resorts Tagaytay, Antonio’s Tagaytay

situs togel

bandar togel

situs togel

bandar togel

bandar togel

toto togel

situs togel

toto togel

bandar togel

toto togel

bandar togel

toto togel

toto togel

situs togel

bandar togel

toto macau

cabe4d

bento4d

toto slot

toto togel

slot resmi

situs togel

bento4d

bento4d

link-bento4d.com

situs toto

situs toto

bento4d

situs togel

situs toto

bento4d

bento4d

bento4d

bento4d

bento4d

situs slot

situs gacor

situs toto

Behind the Veil – De Jesus / Foo Nuptials

“Got everything I need right here”. Bride Cara

I was humbled and touched that choosing me as her makeup artist was due to the fact that my newfound career 12 years ago influenced her love for anything makeup .  This was confirmed by her mother and by Cara when I was tasked to do her wedding.  I was still not sure because Cara is an influencer and has a strong following.  She definitely can challenge my makeup skills on her IG page so I countered.  My style leans toward a more romantic look and I wasnt quite sure this is the look she wanted.  Obviously, I was kilig when she insisted I do her face.  Thank you Cara!

Every wedding is different, and how Cara and Jon met was not in a traditional sense wherein they were introduced by friends or they met at an event or social gathering.  Nowadays, social media has now become the new dating dynamic that replaces the old methods of meeting new people .  Bumble is the new best friend that connects people virtually.

I’ve known Cara to be a doer and a go getter, she started a clothing line  Crow, now temporarily on hold due to new priorities at work, she has been very outspoken with current issues.  She also has a generous spirit and a big heart, she helped raise funds and took care of her long time nanny who sadly passed away from cancer while running her business.

Jon, you married the right woman!  Fearless, strong and built with a heart of gold.  Bumble was the right matchmaker!

Here are excerpts of my Behind the Veil conversation series with Cara.

 

 

1). Please tell me a bit about yourself. What do you do for a living, what are your hobbies, passions?

I work as a brand manager for a wellness company but I started my career in the local beauty industry serving as the marketing lead for several cult favorite and home grown brands. I love anything to do with beauty.

2). How did you and Jon meet?

Bumble!

3. How did you like the outcome of our time together, for your special day?

I loved it as you were already someone I’ve known pretty much all my life so it was very comfortable and pleasant.

4. What’s one special memory you have of your wedding that you love? Could you share that photo with us?

 

When I first saw the entire look come together — I don’t wear dresses at all and while I love fashion and beauty, I don’t consider myself a girly girl. It felt nice and different to be dressed up in a wedding dress!

5). What was a good beauty moment for you during the wedding day itself?

I normally have dry and flaky skin so the fact that my skin looked glowy and well moisturized was a great beauty moment.

6) Favourite beauty product, application used during your wedding and why?

I loved airbrush makeup since it was my first time. It was soothing and different from my traditional makeup experiences.

7) Any bridal tips you want to share for future brides planning their wedding?

I think skin prep is really important especially for brides like myself with really dry skin. It truly makes a difference!

8) What is one thing you could change during your wedding preparation?

Nothing, everything went as planned!

9) Any beauty rituals you did or received that you want to share?

I got a facial, had my hair toned and got eyelash extensions prior to the ceremony. I also got nail extensions.

10) Favourite photo of you during the wedding and why.

Because it was the first time I tried the entire look with hair and makeup!

 

Best wishes to you Cara and Jon!!!

 

Photography:  Amilon Ignacio

Makeup Artist:  Acie Fores

Hairstylist:  Susan Salameda

Gown:  Haydee Garcia

Flowers:  Aina Zulueta

Jewels:  Miladay Jewels

 

bandar togel

bandar togel

bandar togel

toto macau

bento4d

togel online

bento4d

slot gacor

link alternatif bento4d

toto slot

bento4d

slot 4d

toto togel

situs slot

bento4d

bento4d

link slot

bento4d

toto slot

toto slot

situs togel

bento4d

bento4d

bento4d

situs toto