Pelatihan guru yang seharusnya menjadi momen “cas daya” intelektual, kini banyak yang berubah menjadi sekadar transaksi administratif. Berikut adalah bedah kritis di balik politisasi sertifikat ini:
1. Sistem Poin yang Menjebak (Kuantitas di Atas Kualitas)
Regulasi yang mewajibkan guru mengumpulkan angka kredit dalam jumlah tertentu menciptakan tekanan sistemik.
2. Industri “Jual Beli” Sertifikat dan Diklat
Permintaan yang tinggi terhadap sertifikat melahirkan pasar gelap dan komersialisasi pendidikan.
-
Jasa Pembuatan Sertifikat: Di beberapa platform media sosial, muncul jasa ilegal yang menawarkan sertifikat pelatihan atau piagam penghargaan tanpa guru harus mengikuti prosesnya, demi memenuhi syarat kenaikan pangkat yang mepet tenggat waktu.
Ekosistem “Berburu Sertifikat”: Alur dari Tekanan ke Formalitas
3. Politisasi dan Pencitraan Birokrasi
Sertifikat bukan hanya soal guru, tapi juga soal angka-angka cantik di level birokrasi yang lebih tinggi.
-
Laporan Serapan Anggaran: Dinas pendidikan atau instansi terkait sering mengadakan pelatihan besar-besaran di akhir tahun demi menyerap anggaran. Kualitas materi nomor sekian, yang penting jumlah peserta (dan jumlah sertifikat yang terbit) terlihat masif di laporan pertanggungjawaban.
-
Validasi Semu Inovasi: Pejabat sering membanggakan “Jumlah Guru yang Terlatih Digital” berdasarkan jumlah sertifikat yang keluar dari sebuah platform, padahal di lapangan, banyak guru tersebut masih kesulitan mengoperasikan alat dasar karena pelatihan yang dilakukan tidak berbasis praktik.
4. Hilangnya Waktu untuk Siswa
Dampak yang paling memprihatinkan dari fenomena ini adalah tercurinya waktu guru.
-
Guru sebagai “Administratur”: Waktu yang seharusnya digunakan untuk merancang media pembelajaran yang kreatif atau melakukan pendekatan personal kepada siswa yang bermasalah, justru habis untuk mengikuti deretan webinar dan menyusun laporan aksi nyata demi mendapatkan validasi sistem.
-
Kelelahan Mental: Guru mengalami kejenuhan (burnout) karena harus terus-menerus mengejar target sertifikat yang tidak ada habisnya, sehingga semangat mereka saat mengajar di kelas justru menurun.
Solusi: Menggeser Validasi dari Kertas ke Kelas
Untuk memutus rantai “politisasi sertifikat” ini, diperlukan keberanian sistemik:
-
Evaluasi Berbasis Observasi: Kinerja guru seharusnya dinilai 80% dari apa yang terjadi di dalam kelas (interaksi dengan siswa, kualitas umpan balik), bukan dari berapa banyak PDF yang ia unggah.
-
Pelatihan Berbasis Kebutuhan (Bukan Massal): Guru harusnya hanya mengikuti pelatihan yang relevan dengan masalah yang ia hadapi di kelasnya masing-masing, bukan diwajibkan mengikuti semua diklat yang tersedia.
-
Sertifikat sebagai Akibat, Bukan Tujuan: Sistem harus dibuat sedemikian rupa sehingga sertifikat hanya diberikan kepada mereka yang terbukti mengimplementasikan ilmu pelatihannya dan menunjukkan hasil nyata pada kemajuan siswa.
Kesimpulan
Pelatihan guru telah menjadi “ajang berburu sertifikat tanpa isi” karena sistem kita lebih menghargai bukti fisik daripada bukti dampak. Selama kita masih memuja formalitas, maka guru-guru akan terus terjebak dalam perlombaan kertas, sementara kualitas pendidikan di ruang kelas tetap jalan di tempat.
Menurut Anda, apakah sistem poin sertifikat ini perlu dihapus total dan diganti dengan sistem kenaikan pangkat berdasarkan masa kerja dan prestasi mengajar langsung, ataukah ada cara lain untuk menjaga guru tetap belajar tanpa harus terbebani administrasi?